Manufacturing Hope 16
Dream Team di satu pagi di hari Minggu
Minggu pagi tanggal 26 Februari 2012 di Kementerian BUMN. Beberapa rapat diadakan sepanjang hari itu. Salah satunya mengenai dream team di seluruh perusahaan perkebunan milik negara.
Pada Minggu seperti itu, ketika tak banyak tamu dan panggilan telepon, pembicaraan bisa lebih fokus.
Seluruh calon direktur utama di 15 perusahaan perkebunan (PTPN I sampai XIV plus PT RNI) dihadirkan.
Sesuai dengan komitmen pembentukan sebuah dream team (ada yang menyebutnya winning team), para calon direktur utama diminta mengajukan usulan, khususnya siapa saja yang mereka pilih menjadi direktur untuk mendampinginya.
Menteri BUMN tidak lagi menunjuk begitu saja siapa menjadi direktur apa di perusahaan mana.
Kini, Menteri BUMN lebih banyak mendengar usul dari sang calon direktur utama. Proses ini sudah dimulai oleh Menteri BUMN sebelum saya, Bapak Mustofa Abubakar.
Sewaktu saya ditunjuk menjadi Direktur Utama PLN dua tahun lalu, saya diberi hak memilih siapa saja direktur PLN untuk mendampingi saya. Dengan cara seperti itu tim direksi BUMN bisa lebih solid.
Ketidakcocokkan antardireksi tidak terjadi. Konflik bisa dihindari. Pertengkaran bisa dicegah. Backing-backingan, sponsor-sponsoran, dan jegal-jegalan terhindarkan.
Dari sini diharapkan tidak akan banyak intervensi yang harus dilayani di masa datang, dan energi direksi yang dulu terbuang untuk bertengkar bisa difokuskan untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Sambil melihat nama-nama yang diusulkan untuk menjadi direksi itu, sebenarnya saya sekalian ingin melihat kemampuan para calon dirut dalam menyusun tim. Saya juga ingin melihat kemampuan mereka dalam memilih orang. Adakah unsur senang atau tidak senang. Adakah unsur pertemanan. Adakah unsur objektivitas.
Kemampuan memilih orang adalah salah satu kunci sukses tidaknya seorang pemimpin. Seorang pemimpin puncak, di samping harus memenuhi syarat kapabilitas manajemen, juga harus dilihat kemampuannya dalam memilih orang.